Minggu, 11 April 2010

Pohon Terakhir :Kujaga dan kusirami tubuhmu dengan darahku Agar tetap tumbuh dan menyejukan jiwaku

Sinopsis
POHON TERAKHIR

Ketika pemanasan global terjadi akibat penyalahgunaan sumber daya alam oleh manusia secara berlebihan bencana alam silih berganti terjadi dibumi. tsunami,banjir,kekeringan,gempa bumi menjadi sesuatu yang lumrah.
Tatanan peradaban manusia kembali pada titik nol,Ketika kutub utara dan selatan mencair dan daratan tenggelam, orang-orang dari suku primitif melakukan sebuah ritual penanaman pohon terakhir sebagai bentuk penyucian dosa-dosa roh leluhur.




















BAGIAN I
(BERDIRI SEORANG WANITA MEMAKAI GAUN PUTIH YANG BESAR DAN PANJANG DIDALAMNYA TERDAPAT BAYANGAN DUA LAKI-LAKI SEDANG DUDUK MUSIK SEDIH MENGIRINGI PUISI DAN LAGU SERTA DITAMBAHKAN PROYEKTOR TENTANG BENCANA ALAM)
Tanah longsor
Gunung gundul
Sungai banjir
Laut badai
Matahari semakin panas menyengat
Cairkan kutub utara dan selatan
Efek rumah kaca semakin menggila

Cuaca tak dapat diterka
Musim tak dapat ditebak
Semua berubah
Semua tak pasti
Inikah bumi tempat tinggal kami
Rindu semak belukar hamparan hijau pegunungan kini tak dapat kulihat

pohon-pohon tak ada lagi menghiasi hutan rimba
hanya kering kerontang tanah kehausan galau kering memberangus kehidupan

sungai tanpa tawa ikan
hanya maki sampah disepanjang aliran
tak berakhir di lautan tersumbat limbah pabrik dan rumah tanggga
awan hitam menangis
banjir datang menghadang
sawah ternak termakan amukan, tenggelam dalam ketiadaan

(LAKI-LAKI DIDALAM GAUN PUTIH BERGERAK DAN HENDAK KELUAR NAMUN TAK BISA MENCOBA DAN TERUS BERGERAK)
Laki-laki 2:
Aku rindu a-kar

Laki-laki 1:
Aku rindu ba-tang

Laki-laki 2:
Aku rindu da-un

Laki-laki 1:
Aku rindu bu-nga

Laki-laki 2:
Aku rindu bu-ah

Laki-laki 1:
Aku rindu ok-si-gen

Laki-laki 2:
Aku rindu a-i-r

Laki-laki 1:
Aku rindu le-bah

Laki-laki 2:
Aku rindu hu-mus
Laki-laki 1:
Aku rindu ang-grek

Laki-laki 2:
Aku rindu be-ri-ngin

Laki-laki 1:
Aku rindu cen-da-na

Laki-laki 2:
Aku rindu ja-ti

Laki-laki 1:
Aku rindu ce-ma-ra

Laki-laki 2:
Aku rindu mahoni

Laki-laki 1:
Aku rindu po-hon ma-ngga

Laki-laki 2:
Aku rindu po-hon ram-bu-tan

Laki-laki 1:
Aku rindu po-hon sing-kong
Laki-laki 2:
Musnah

Laki-laki 1:
Lenyap

Laki-laki 2:
Il-le-gal-lo-ging

Laki-laki 1:
Penghancur

Laki-laki 1:
Ditanam beton

Laki-laki 2:
Ditanam besi

Laki-laki 1:
Di bibit pabrik

Laki-laki 2:
Dibibit mall dan real state,apartemen,ruko,toko,semen menutup tanah disepanjang gang perumahan air tak dapat merasuk kedalam nurani tanah, tak ada tempat untuk rumput liar bersemayam tinggal.
Laki-laki 1:
Aku rindu ca-cing
(black out)
BAGIAN II
Wanita :
Menggali,mengeruk isi bumi
Batubara,emas,berlian,tembaga,kuningan
Minyak bumi
Menjadi rintih penghuni bumi
Bergesek-gesek perut bumi
Laut bergelombang bernyanyi
Menyapu kawanan ikan
Bergumul ombak berselimut nelayan
Lidah air menjulur kepantai menjilat daratan
Jerit tangis menjadi doa akhir 25 desember tahun silam
Menggelombang bersama nisan-nisan penghuni keserakahan
Akankah:
Kesadaran bangkit
Batin belajar dari kesalahan
Berkutat pada sebab akibat
Akh,
Aceh,airku tumpah
bersama mata darahku
Jogja,jabar,padang,bergoyang dalam perut keroncongan bumi yang kosong momplong
Gemparkan nurani yang terkoyak
Bertanya ini salah siapa?
Sebab akibat mungkin bisa menjawab

(PROYEKTOR MEMPERLIHATKAN TSUNAMI DAN GEMPA SEORANG LAKI-LAKI MENARI DENGAN PAKAIN KETAT SEOLAH TUBUHNYA ADALAH BUMI)
(black out)
BAGIAN III
(TUBUH TUBUH MENARI DENGAN RITMIS, TUBUHNYA MENCAIR KARENA KEPANASAN)
BAGIAN IV
(RITUAL DISERELENGGARAKAN OLEH ORANG-ORANG PRIMITIF SUKU PEDALAMAN POHON KERAMAT DITANAM DALAM HAMPARAN SAMPAH )

Suku primitif:
Kujaga dan kusirami tubuhmu dengan darahku
Agar tetap tumbuh dan menyejukan jiwaku
(MANTRA)


(PROYEKTOR MEMPERLIHATKAN POHON ITU TUMBUH DAN MEMBESAR MENCIPTAKAN HAMPARAN GUNUNG YANG HIJAU,KUPU-KUPU DAN LEBAH BERTERBANGAN MEWUJUDKAN BUNGA LALU BUAH, MEMPERLIHATKAN KEINDAHAN HEWAN DAN TUMBUHAN DI DARAT DAN LAUT NUSANTRA)

***







Produksi teater sendratasik UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Surabaya,25 Desember 2009
Didedikasikan bagi relawan dan aktifis lingkungan hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar